Kirab Budaya Se Jawa Tengah
KabarIndonesia – Julukan sebagai Kota Budaya sangat akrab dan melekat lama di Kota Solo. Hal itu tidak lepas dari peninggalan berbagai warisan pusaka (heritage) berupa tangible heritage (bendawi) dan intangible heritage (nonbendawi).
Oleh karena itu bukan hal yang mengherankan bila bulan bulan oktober 2008 event budaya bertebaran di Kota Solo. Selain dijadikan tempat perhelatan WHCCE (World Heritages Cities Conference and Expo) tanggal 25 -28 Oktober 2008.
Penyelenggaraan Solo International Etnik Musik (SIEM) tanggal 28 Oktober – 1 Nopember 2008, pertemuan UN Habitat dan Borobudur Travel Mart (BTM).
Oleh karena itu usaha dan kehendak dari penentu kebijakan harus didukung oleh seluruh warga kota Solo. Begitu pula sangat diperlukan dukungan dari Pemerintah Pusat.
Sebagai bentuk kota budaya dan banyaknya event yang digelar dipastikan ditengah penyelenggaraan (hajatan) juga diadakan kirab (pawai).
Banyak kirab yang di kenal di kota Solo, selain yang rutin adalah kirab Pusaka setiap malem sasi suro dan jumenengan raja. Namun ditahun 2008 banyak bentuk kirab terlaksana seperti kirab Solo Batik Carnival ( SBC), kirab perkawinan Putri Mangkunegoro IX, kirap Perkawinan putri Paku Buwono XII Tejowulan, kirab budaya Apeksi dan bersamaan dengan WHCCE diselenggarakan pula kirab kota Pusaka dunia yang akan berlangsung tanggal 26 Oktober 2008.
Kirab merupakan bentuk apresiasi den bukti bahwa budaya wajib dilestarikan. Apalagi Solo di kenal sebagai kota Budaya. Oleh karena itu bila ingin ikut melihat keaneka ragaman budaya baik bendawi maupun non bendawi. Datanglah ke Kota Solo, pasti dijamin tidak mengecewakan.
Salah satu aktualisasinya adalah aneka macam kirab budaya yang sangat memesona. Tanpa melihat dan mengikuti proses acara perhelatan secara keseluruhan, aksi kirab sudah mewakilinya.
Pemerintah Kota Surakarta mengadakan perhelatan agung yakni kirab Budaya se-Jawa Tengah bahkan kirab budaya se Indonesia. Acara ini diikuti hampir seluruh kabupaten di Jawa Tengah mulai dari Brebes, Pemalang, Pekalongan, Sukoharjo dan lain-lain.
Acara ini juga diikuti oleh seluruh siswa OSIS sebagai pagar betis, pengamanan pramuka, paskibraka dan pembawa bendera (opening). Dimulai dari starting point Lapangan Kota Barat, hingga ke Novotel Hotel dan kembali ke kota Barat.
Para penonton warga Kota Surakarta tumpah ruah memadati sepanjang ruas jalan raya yang dilewati peserta kirab.
Dokumentasi acara tersebut diabadikan sebagai berikut :



Potret Peserta Kirab Budaya Se Jawa Tengah



Walikota Surakarta Peserta = Buto Peserta = Anoman



Nah yang ini antara serem dan yang cakep !



Duh, iyeuk, gatot koco apa Cris Jhon ya !






serah terima barang bantuan kepada perwakilan siswa (simbolis)

